
Disebuah taman tinggalah keluarga burung Pipit. Mereka bersarang disebuah pohon yang rindang, dipucuk dekat dahan yang terjulur ketengah kolam. Ada seekor pipit kecil yang tinggal disana, sementara kedua induknya terbang bolak-balik untuk mencari makan. Kadang kedua sejoli ini membawa ranting kering untuk penghangat pipit yang baru menetas itu. Cericit nyaring kerap terdengar, tanda si kecil butuh makan dan butuh kehadiran induknya.
Dua minggu telah berlalu, pipit kecil itupun sudah mulai dewasa. Bulu-bulu ditubuhnya mulai rapat. Paruhnya pun tampak lebih runcing. Bulu yang muncul dikedua sayap semakin banyak. Itu berarti, sang pipit harus mulai belajar untuk terbang dan mengepakkan sayap-sayap kecil diudara. Kedua induk pipit itupun mulai tidak sabar untuk melatihnya terbang beriring. Maka beberapa pekan selanjutnya mulailah mereka mengajak pipit muda itu keluar dari sarang.
“Ayo, sekarang saatnya belajar terbang”, cericit Ayah pipit kepada anaknya. “Sayap-sayapmu sudah tumbuh, coba kepakkan keudara.” Namun sang ayah mendapat jawaban pendek. “Aku tak mau belajar terbang. Aku malas.” Sang Ayah yang sudah bertengger disisi dahan, kembali menuju sarang. “Kenapa?” tanyanya. “Sayapku masih kecil,” jawab si pipit, “Lagipula, aku belum mau terbang. Tempat inipun terlalu tinggi, tentu sakit sekali jika aku terjatuh.”
Mendengar jawaban itu, sang Ayah pipit mengepak-ngepakkan sayapnya. Ia terbang berkeliling. Berputar-putar disekitar sarangnya. Pipit kecil hanya memperhatikan. “Kita bangsa burung, pasti punya sayap. Tapi bukan sayap itu saja yang membuat kita terbang. Tapi kepakan sayaplah yang membuat kita bertahan diudara. Cobalah, kepakkan sayapmu. Jangan berhenti.” Cericit kecil dari induk pipit terdengar ramai. Kepakan sayapnya tak henti-henti.
“Biarkan sayapmu terlatih. Biarkan angin dan udara yang membuatnya kuat. Biarkan sinar matahari yang membuatnya gesit. Biarkan tanah dibwah yang jauh itu sebagai sebagai ujiannya.” Kepakan sayap sang Ayah membuat si kecil terpesona. Ia mulai bangkit dari sarangnya dan berjalan meniti dahan. “Biarkan saja air hujan yang jatuh mengenai kedua sayapmu. jadikan dahan-dahan itu tempatmu berkelit. Jangan pernah berhenti menggerakkan sayapmu jika ingin terbang seperti Ayah. Jangan berhenti.”
Pipit kecil mulai bergerak. Burung itu mulai mengayuh kedua sayapnya. Plap… plap… Sayap kecil mungil itu mulai terangkat perlahan. Plap… plap… plap… Badannya mulai oleng sedikit, tapi plap… plap… plap… Ia mulai terangkat kembali. Pipit kecil mulai belajar terbang. Ia juga belajar, bahwa angin, udara, sinar matahari, dan dahan-dahan itulah yang menjadi karibnya belajar.

Teman begitulah. Setiap makhluk, mempunyai keunikannya masing-masing. Allah menitipkan pada burung sepasang sayap untuk terbang. Allah juga mengamanatkan sepasang sirip kepada ikan agar mereka berenang. Allah menunjukkan kita tentang sepasang kaki yang kuat dari kuda agar hewan itu dapat berlari kencang, juga memperlihatkan kepada kita tentang kokohnya badan gajah saat mereka sedang membawa beban.
Namun apakah Allah langsung menciptakan burung yang bisa terbang, dan ikan yang terlahir luwes dalam berenang? Apakah Allah juga serta merta menganugerahi kaki-kaki yang gesit kepada kuda, dan badan yang kokoh kepada gajah, tanpa membuat hewan itu mengenal arti belajar? Allah menitipkan sayap pada burung agar mereka bisa terbang, tapi juga menyandingkan sayap itu dengan terpaan angin, dan teriknya matahari agar burung itu dapat bertahan diudara. Allah mengamanatkan sirip pada ikan untuk berenang, tapi juga memberikan derasnya arus, dan lekukan-lekukan karang, agar ikan itu dapat luwes berkelit didalam air.
Begitupun kita. Allah menitipkan kita banyak kemudahan, tubuh yang sempurna, pikiran yang cerdas, dan beragam kemuliaan yang kita miliki. Tapi Allah juga menyandingkan itu semua dengan cobaan, terpaan, tantangan, hambatan, dan beragam ujian buat kita. Itu semua, adalah bagian dari rencana Allah untuk kita, agar kita memahaminya. Layakkah kita berhenti? Pantaskah kita mudah mengeluh? yakinkan bahwa semua ujian itu adalah rahasia Allah agar kita semakin sempurna, pikiran kita makin terbuka, dan kemuliaan kita makin nampak.
Jangan pernah “berhenti mengepakkan sayapmu” teman. Biarkan cobaan itu membuatmu kuat, biarkan derasnya terpaan itu membuatmu gesit berkelit. Biarkan jiwa-jiwa pemenang memenuhi hatimu. Biarkan jiwa-jiwa sabar juga menjadi penyejuk bagimu. Selamat terbang. Selamat tak henti mengepakkan sayap-sayapmu…
Story by FKI and Kammus FKG UGM re-edited by Youfan
Sesungguhnya Allah bila mencintai seorang hamba, Ia akan mengujinya.
Pertolongan akan datang bersama kesabaran.
Orang yang mengasihi akan dicintai Allah sang Maha Pengasih.
Yakinlah bahwa tidak ada yang mustahil dalam hidup ini.
Kuasailah pikiran anda, pasti Anda akan berbahagia.
Jadikanlah kegagalan sebagai pelajaran…
Teruslah berusaha jadi lebih baik… Dan, jangan lupakan kekuatan doa…